1. Masa Menunda Perkawinan dan Kehamilan
Salah satu prasyarat untuk menikah adalah kesiapan secara fisik, yang
sangat menentukan adalah umur untuk melakukan pernikahan. Secara
biologis, fisik manusia tumbuh berangsur-angsur sesuai dengan
pertambahan usia.
Dalam masa reproduksi, usia di bawah 20 tahun adalah usia yang
dianjurkan untuk menunda perkawinan dan kehamilan. Dalam usia ini
seorang remaja masih dalam proses tumbuh kembang baik secara fisik
maupun psikis. Proses pertumbuhan berakhir pada usia 20 tahun,
dengan alasan ini maka dianjurkan perempuan menikah pada usia 20
tahun. Apabila perempuan menikah dibawah usia 20 tahun dapat
mengakibatkan risiko kesakitan dan kematian yang timbul selama
proses kehamilan dan persalinan, yaitu:
a. Risiko pada Proses Kehamilan
1) Keguguran (aborsi), yaitu berakhirnya proses kehamilan pada
usia kurang dari 20 minggu.
2) Pre eklampsia, yaitu ketidakteraturan tekanan darah selama
kehamilan dan Eklampsia, yaitu kejang pada kehamilan.
3) Infeksi, yaitu peradangan yang terjadi pada kehamilan.
4) Anemia, yaitu kurangnya kadar hemoglobin dalam darah.
5) Kanker rahim, yaitu kanker yang terdapat dalam rahim. Hal ini
erat kaitannya dengan belum sempurnanya perkembangan
dinding rahim.
6) Kematian bayi, yaitu bayi yang meninggal dalam usia kurang
dari 1 tahun.
b. Risiko pada Proses Persalinan
1) Prematur, yaitu kelahiran bayi sebelum usia kehamilan 37
minggu.
2) Timbulnya kesulitan persalinan, yang dapat disebabkan karena
faktor dari ibu, bayi dan proses persalinan.
3) BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah), yaitu bayi yang lahir dengan
berat dibawah 2.500 gram.

4) Kematian bayi, yaitu bayi yang meninggal dalam usia kurang
dari 1 tahun
5) Kelainan bawaan, yaitu kelainan atau cacat yang terjadi sejak
dalam proses kehamilan.
Perempuan yang menikah pada usia kurang dari 20 tahun dianjurkan
untuk menunda kehamilannya sampai usianya minimal 20 tahun
dengan menggunakan alat kontrasepsi. Kontrasepsi yang dianjurkan
adalah Kondom, Pil, IUD, metode sederhana, implan dan suntikan.

2. Masa Menjarangkan Kehamilan
Pada masa ini usia isteri antara 20-35 tahun, merupakan periode yang
paling baik untuk hamil dan melahirkan karena mempunyai risiko
paling rendah bagi ibu dan anak. Jarak ideal untuk menjarangkan
kehamilan adalah 5 tahun. Kontrasepsi yang dianjurkan adalah IUD,
Suntikan, Pil, Implan dan metode sederhana.

3. Masa Mengakhiri Kehamilan
Masa mengakhiri kehamilan berada pada usia PUS diatas 35 tahun,
sebab secara empirik diketahui melahirkan anak diatas usia 35 tahun
banyak mengalami risiko medik. Kontrasepsi yang dianjurkan adalah
Steril, IUD, Implan, Suntikan, Metode Sederhana dan Pil.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan penggunaan kontrasepsi
berdasarkan fase reproduksi wanita seperti tabel dibawah ini :

C. Kesiapan Ekonomi Keluarga
Salah satu faktor ketidakharmonisan keluarga pada umumnya disebabkan
oleh masalah ekonomi keluarga, oleh karena itu dalam perencanaan
kehidupan berkeluarga perlu dipersiapkan kemapanan ekonomi
(mempunyai pekerjaan tetap).

D. Kematangan Psikologis Remaja
Kematangan psikologis remaja diperlukan dalam penyiapan kehidupan
berkeluarga agar dapat :
1. Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya
secara efektif
2. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang
dewasa lainnya

E. Kematangan Sosial Remaja
Kematangan sosial remaja diperlukan dalam penyiapan kehidupan
berkeluarga agar dapat :
1. Memahami dan menyesuaikan diri, baik dalam lingkungan yang baru
maupun antara lawan jenis
2. Menjalankan peran sosial dalam lingkungan masyarakat
3. Mempraktekkan perilaku sosial yang bertanggungjawab

Image

Image

A. Pendahuluan
Memasuki kehidupan berkeluarga tentunya memerlukan persiapan yang
matang dari setiap pasangan. Menyiapkan pribadi yang matang sangat
diperlukan dalam membangun keluarga yang harmonis. Menyiapkan
pribadi yang matang dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai moral
dengan melaksanakan 8 fungsi keluarga yaitu fungsi agama, sosial budaya,
cinta kasih dan sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan,
ekonomi, dan lingkungan. Dalam setiap fungsi keluarga terdapat nilai-nilai
moral yang harus diterapkan dalam keluarga.

Image

B. 8 Fungsi Keluarga
Pengamalan nilai-nilai moral menurut 8 fungsi keluarga dapat diuraikan
sebagai berikut:

1. Fungsi agama
Agama adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia yang ada sejak
dalam kandungan. Keluarga adalah tempat pertama seorang anak
mengenal agama. Keluarga juga menanamkan dan menumbuhkan serta
mengembangkan nilai-nilai agama, sehingga anak menjadi manusia
yang berakhlak baik dan bertaqwa.
Dalam fungsi agama, terdapat 12 nilai dasar yang mesti dipahami dan
ditanamkan dalam keluarga. Dua belas nilai dasar tersebut diantaranya:
a. Iman, yang dimaksud dengan iman yaitu mempercayai akan adanya
Allah SWT, Tuhan YME, mengamalkan segala ajaranNya.
b. Taqwa, yang dimaksud dengan taqwa adalah mengamalkan segala
sesuatu yang diperintahkan dan menghindari segala yang dilarang
Allah SWT.

c. Kejujuran, yang dimaksud dengan kejujuran yaitu menyampaikan
apa adanya.
d. Tenggang rasa ditandai dengan adanya kesadaran bahwa setiap
orang berbeda dalam sifat dan karakternya.
e. Rajin, maksudnya menyediakan waktu dan tenaga untuk
menyelesaikan tugasnya dengan berusaha untuk mendapatkan hasil
yang terbaik.
f. Kesalehan, maksudnya adalah memiliki nilai moral yang tinggi
dengan melakukan sesuatu yang benar secara konsisten.
g. Ketaatan, maksudnya dengan segera dan senang hati melaksanakan
apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
h. Suka membantu, memiliki kebiasaan menolong dan membantu
orang lain tanpa mengharapkan imbalan.
i. Disiplin, maksudnya menepati waktu, mematuhi aturan yang telah
disepakati.
j. Sopan santun, maksudnya adalah seseorang yang berperilaku sesuai
dengan norma-norma dan nilai-nilai agama.
k. Sabar dan Ikhlas, maksudnya kemampuan seseorang untuk menahan
diri dalam menginginkan sesuatu serta dalam menghadapi suatu
kesulitan.
l. Kasih sayang, merupakan ungkapan perasaan dengan penuh
perhatian, kesadaran dan kecintaan terhadap seseorang.

2. Fungsi Sosial Budaya

Image
Manusia adalah makhluk sosial, ia bukan hanya membutuhkan orang lain
tetapi juga ia membutuhkan interaksi dengan orang lain. Setiap keluarga
tinggal disuatu daerah dengan memiliki kebudayaan sendiri. Keluarga
sebagai bagian dari masyarakat diharapkan mampu mempertahankan
dan mengembangkan sosial budaya setempat.
Dalam fungsi sosial budaya, terdapat 7 (tujuh) nilai dasar yang mesti
dipahami dan ditanamkan dalam keluarga. Tujuh nilai dasar tersebut
diantaranya:
a. Gotong royong, melakukan pekerjaan secara bersama-sama yang
dilandasi oleh sukarela dan kekeluargaan.

b. Sopan santun, perilaku seseorang yang sesuai dengan norma-norma
sosial budaya setempat.
c. Kerukunan, hidup berdampingan dalam keberagaman secara damai
dan harmonis.
d. Peduli, mendalami perasaan dan pengalaman orang lain.
e. Kebersamaan, adanya perasaan bersatu, sependapat, dan
sekepentingan.
f. Toleransi, bersikap menghargai pendirian yang berbeda atau
bertentangan dengan pendirian sendiri.
g. Kebangsaan, kesadaran diri sebagai warga negara Indonesia yang
harus menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa.

3. Fungsi Cinta dan Kasih Sayang
Mendapatkan cinta kasih adalah hak anak dan kewajiban orangtua untuk
memenuhinya. Dengan kasih sayang orangtuanya, anak belajar bukan
hanya menyayangi tetapi juga belajar menghargai orang lain. Dalam
fungsi cinta dan kasih sayang terdapat 8 (delapan) nilai dasar yang mesti
dipahami dan ditanamkan dalam keluarga, diantaranya adalah:
a. Empati, adalah memahami dan mengerti akan perasaan orang lain
b. Akrab, hubungan yang dilandasi oleh rasa kebersamaan dan
kedekatan perasaan
c. Adil, memperlakukan orang lain dengan sikap tidak memihak
d. Pemaaf, dapat menerima kesalahan orang lain tanpa perasaan
dendam
e. Setia, maksudnya adalah setia terhadap kesepakatan
f. Suka menolong, ditandai dengan tindakan suka menolong dan suka
membantu orang lain
g. Pengorbanan, kerelaan memberikan sebagian haknya untuk
membantu orang lain
h. Tanggung jawab, mengetahui serta melakukan apa yang menjadi
tugasnya.

4. Fungsi Perlindungan
Keluarga mempunyai fungsi sebagai tempat berlindung bagi anggota
keluarga. Dalam hal ini dimaksudkan bahwa keluarga harus memberikan
rasa aman, tenang dan tenteram bagi anggota keluarganya.
Dalam fungsi perlindungan terdapat 5 (lima) nilai dasar yang mesti
dipahami dan ditanamkan dalam keluarga. Nilai dasar tersebut
diantaranya:
a. Aman, dimaksudkan suatu perasaan yang terbatas dari ketakutan
dan kekhawatiran
b. Pemaaf, memberitahukan atau menunjukkan kesalahan seseorang
dan memberi kesempatan untuk memperbaikinya
c. Tanggap, maksudnya mengetahui dan menyadari sesuatu yang akan
membahayakan/mengkhawatirkan
d. Tabah, mampu menahan diri ketika menghadapi situasi yang tidak
diharapkan
e. Peduli, suatu upaya untuk memelihara, melindungi lingkungan dari
kerusakan

5. Fungsi Reproduksi
Salah satu tujuan dari perkawinan adalah memperoleh keturunan
sebagai pengembangan dari tuntunan fitrah manusia. Dalam hal ini
keturunan diperoleh dengan bereproduksi oleh pasangan suami istri
yang sah.
Dalam fungsi reproduksi terdapat 3 (tiga) nilai dasar yang mesti dipahami
dan ditanamkan dalam keluarga. Nilai dasar tersebut diantaranya:
a. Tanggung jawab dimaksudkan untuk mengetahui apa yang menjadi
tugasnya
b. Sehat dimaksudkan untuk keadaan sehat secara fisik, fungsi dan
sistem reproduksi serta rohani/emosional, orang yang sehat dalam
fungsi reproduksi dicirikan dengan kemampuan seseorang menjaga
kebersihan dan kesehatan reproduksinya
c. Teguh dimaksudkan adalah kemampuan untuk menjaga fungsi
reproduksi yaitu menjaga kesucian organ reproduksinya sebelum
menikah.

 6. Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia dalam
kehidupannya saling membutuhkan bantuan satu sama lain, hidup
secara berkelompok dan bermasyarakat.
Dalam fungsi sosialisasi dan pendidikan terdapat 7 nilai dasar yang mesti
dipahami dan ditanamkan dalam keluarga.
Ketujuh nilai dasar tersebut diantaranya:
a. Percaya diri yaitu kebebasan berbuat secara mandiri dengan
mempertimbangkan serta memutuskan sendiri tanpa bergantung
pada orang lain.
b. Luwes yaitu mudah menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi
misalnya dengan mudah menerima pendapat orang lain serta dapat
bergaul dengan siapa saja.
c. Bangga yaitu perasaan senang yang dimiliki, ketika selesai
melaksanakan tugas/pekerjaan yang menantang atau berhasil
meraih sesuatu yang diinginkan.
d. Rajin yaitu menyediakan waktu dan tenaga untuk menyelesaikan
tugasnya dengan berusaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Orang rajin dicirikan dengan selalu menyediakan waktu tanpa
mengenal menyerah serta mempunyai cita-cita.
e. Kreatif yaitu mendapatkan banyak cara untuk melakukan sesuatu.
Orang kreatif dapat dicirikan dengan selalu banyak ide/gagasan
dalam melakukan sesuatu, tidak pernah berhenti.
f. Tanggungjawab yaitu mengetahui serta melakukan apa yang
menjadi tugasnya.
g. Kerjasama yaitu melakukan sesuatu pekerjaan secara bersama-sama.

7. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi adalah serangkaian dari fungsi lain yang tidak dapat
dipisahkan dari sebuah keluarga. Fungsi ini dilakukan dengan cara
mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga.
Dalam fungsi ekonomi terdapat 3 (tiga) nilai dasar yang mesti dipahami
dan ditanamkan dalam keluarga. Nilai dasar tersebut diantaranya:

a. Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga
b. Pengaturan dan penggunaan penghasilan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan keluarga
c. Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa yang
akan datang

8. Fungsi Lingkungan
Upaya pengembangan fungsi lingkungan ini dimaksud sebagai wahana
bagi keluarga agar dapat mengaktualisasikan diri dalam membangun
dirinya menjadi keluarga sejahtera.
Dalam fungsi lingkungan terdapat 2 (dua) nilai dasar yang mesti
dipahami dan ditanamkan dalam keluarga. Kedua nilai dasar tersebut
diantaranya:
a. Bersih, maksudnya suatu keadaan lingkungan yang bebas dari
kotoran, sampah dan polusi.
b. Disiplin, maksudnya mematuhi aturan dan kesepakatan yang
berlaku.

PROGRAM GENRE

Posted: 17/05/2013 in Uncategorized

MATERI PEGANGAN KADER
TENTANG BIMBINGAN DAN PEMBINAAN
KELUARGA REMAJA

http://ibicabangbondowoso.files.wordpress.com/2012/05/89bkkbn-logo.jpg?w=560

BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL
Jl. Permata No. 1 Halim Perdana Kusuma – Jakarta Timur
Telp/Fax : (021) 8009029, 8008548
http://ceria@bkkbn.go.id

 

 

Materi Pegangan Kader
Tentang Bimbingan Dan Pembinaan Keluarga Remaja

Diterbitkan oleh :
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

Hak Cipta @2012
Direktorat Bina Ketahanan Remaja

Cetakan Kedua

Disusun oleh:
Indra Wirdhana, SH, MM
Drs. M. Edi Muin, M.Si
Andi ismoyo, SH
Witri Windrawati, SE
Dra. Purini Saptari, M.Pd
Alifah Nuranti, S.Psi, MPH
Farida Ekasari, SIP, MKM
Antonius Angkawijaya, S.Psi
Masnuryati, SE
Syahril Tanjung, SH
Subandi, S.Sos, M.Pd

 

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Direktorat Bina Ketahanan Remaja
Jl. Permata No. 1 Halim Perdana Kusuma – Jakarta Timur
Telp/Fax : (021) 8009029, 8008548
http://ceria@bkkbn.go.id

 

 

 

KEBIJAKAN PROGRAM GENRE

A. Pendahuluan
Jumlah penduduk Indonesia pada kelompok umur 10 – 24 tahun (remaja)
sekitar 27,6% atau kurang lebih 64 juta jiwa, dari total penduduk Indonesia
berdasarkan sensus Penduduk tahun 2010, jumlah yang banyak ini
memerlukan perhatian khusus dari semua pihak, apalagi usia remaja adalah
masa pancaroba, masa pencarian jati diri, ditambah lagi dengan arus
globalisasi dan informasi yang kian tak terkendali, mengakibatkan perilaku
hidup remaja menjadi tidak sehat yang selanjutnya berdampak pada tiga
resiko Triad KRR, seperti seks pranikah, narkoba, HIV dan AIDS. Kondisi ini
apabila dibiarkan terus menerus maka akan mempengaruhi kualitas bangsa
Indonesia 10 – 20 tahun yang akan datang.

Oleh karena itu diperlukan suatu program yang dapat memberikan
informasi yang berkaitan dengan penyiapan diri remaja menyongsong
kehidupan berkeluarga yang lebih baik, menyiapkan pribadi yang matang
dalam membangun keluarga yang harmonis, dan memantapkan
perencanaan dalam menata kehidupan untuk keharmonisan keluarga.
Sebagai implementasi Undang – Undang nomor 52 tahun 2009, tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, pasal 48 ayat
1 (b) yang mengatakan bahwa “Peningkatan kualitas remaja dengan
pemberian akses informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan tentang
kehidupan berkeluarga”, maka BKKBN sebagai salah satu institusi
pemerintah harus mewujudkan tercapainya peningkatan kualitas remaja
melalui Program Generasi Berencana (Program GenRe)

B. Pengertian Program GenRe
Program GenRe adalah suatu program untuk memfasilitasi terwujudnya
Tegar Remaja, yaitu remaja yang berperilaku sehat, terhindar dari risiko Triad
KRR, menunda usia pernikahan, mempunyai perencanaan kehidupan
berkeluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera serta
menjadi contoh, model, idola dan sumber informasi bagi teman sebayanya.
GenRe adalah remaja/mahasiswa yang memiliki pengetahuan, bersikap dan
berperilaku sebagai remaja/mahasiswa, untuk menyiapkan dan
perencanaan yg matang dalam kehidupan berkeluarga. Remaja atau
Mahasiswa GENRE yang mampu melangsungkan jenjang-jenjang
pendidikan secara terencana, berkarir dalam pekerjaan secara terencana,
dan menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus Kesehatan
Reproduksi.

C. Arah Program GenRe
Program Generasi Berencana diarahkan untuk dapat mewujudkan remaja
yang berperilaku sehat, bertanggungjawab, dan dilaksanakan melalui dua
pendekatan, yaitu :

1. Pusat Informasi dan Konseling Remaja / Mahasiswa (PIK R/M)
Suatu wadah dlm program Gen Re yang dikelola dari, oleh dan untuk
remaja/mahasiswa guna memberikan pelayanan informasi dan
konseling tentang kesehatan reproduksi serta kegiatan-kegiatan
penunjang lainnya

2. Kelompok Bina Keluarga Remaja
Adalah Suatu Kelompok / wadah kegiatan yang terdiri dari keluarga
mempunyai remaja usia 10 – 24 tahun yang dilakukan untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua remaja dalam
rangka pembinaan tumbuh kembang remaja dalam rangka
memantapkan kesertaan, pembinaan dan kemandirian ber-KB bagi PUS
anggota kelompok

D. Tujuan Program GenRe
Adapun tujuan dari program GenRe adalah :

1. Tujuan Umum
Memfasilitasi remaja belajar memahami dan mempraktikan perilaku
hidup sehat dan berakhlak (healthy and ethical life behaviors) untuk mencapai ketahanan remaja (adolescent resilience) sebagai dasar
mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera

2. Tujuan Khusus
a. Remaja memahami dan mempraktikan pola hidup sehat dan
berakhlak
b. Remaja memahami dan mempraktikan pola hidup yang
berketahanan
c. Remaja memahami dan mempersiapkan diri menjadi Generasi
Berencana Indonesia

E. Sasaran Program GenRe

Sasaran dalam Program GenRe antara lain :
1. Remaja (10-24 tahun) dan belum menikah
2. Mahasiswa/mahasiswi belum menikah
3. Keluarga / Keluarga yang punya remaja
4. Masyarakat peduli remaja

F. Kebijakan dan strategi Program GenRe
Dalam pelaksanaan Program GenRe, maka diperlukan beberapa kebijakan
antara lain :
1. Peningkatan jejaring kemitraan dalam Program GenRe.
2. Peningkatan SDM pengelola dalam melakukan advokasi, sosialisasi,
promosi dan desiminasi Program GenRe pada mitra kerja dan
stakeholder.
3. Pengembangan PIK Remaja/Mahasiswa (Centre of Excellence) untuk
dapat berperan:
a. Sebagai pusat pengembangan PIK Remaja/Mahasiswa
b. Sebagai pusat rujukan remaja/mahasiswa
c. Sebagai percontohan/model

4. Pengembangan Kelompok BKR yang dimulai dari kelompok dengan
stratifikasi Dasar, Berkembang, dan Paripurna
Adapun strategi Program GenRe adalah :
1. Memberdayakan SDM pengelola dan pelayanan program Gen Re
melalui orientasi, workshop dan pelatihan, serta magang.
2. Membentuk dan mengembangkan PIK Remaja/Mahasiswa dan BKR
3. Mengembangkan materi program GenRe (4 substansi)
4. Meningkatkan kemitraan program GenRe dengan stakeholder dan mitra
kerja terkait
5. Meningkatkan pembinaan, monitoring dan evaluasi secara berjenjang

Strategi Operasional Program GenRe :
1. Strategi Pendekatan
Yaitu strategi dengan melakukan pendekatan-pendekatan kepada
sasaran, yang terdiri dari

a. Sasaran pertama : para remaja yang tergabung dalam Pusat
Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R/M) dan para orang tua remaja
yang tergabung dalam Bina Keluarga Remaja (BKR).
b. Sasaran kedua : para pembina, pengelola dan anggota dari
lingkungan dekat PIK-R/M dan BKR, yaitu Keluarga, Kelompok
Sebaya, Sekolah/Perguruan Tinggi, dan Organisasi Pemuda dll.
c. Sasaran ketiga : para pemimpin dari lingkungan jauh PIK-R/M dan
BKR, yaitu Pemerintah, DPR, DPRD, Partai Politik, Perusahaan,
Organisasi Professi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat dll.

2. Strategi Ramah Remaja/Mahasiswa
a. Pengelolaan PIK R/M yang bercirikan dari, oleh dan untuk remaja/
mahasiswa.
b. Pelayanan PIK R/M yang bernuansa dan bercita rasa
remaja/mahasiswa.
c. Fasilitasi dan pembinaan PIK R/M yang berasaskan kemitraan
dengan remaja – mahasiswa.

3. Strategi Pembelajaran
a. Introspeksi Diri
b. Mengambil keputusan – keputusan hidup atas dasar kebenaran
(truth) dan kejujuran (sincerity)
c. Menjalin hubungan baik di lingkungan dekat
d. berkembang dengan sehat serta berperilaku yang baik.

4. Strategi Pelembagaan
a. Mempromosikan PIK R/M melalui :
1) Pencitraan PIK R/M yang posistif oleh para Juara Duta Mahasiswa
pada semua tingkatan wilayah
2) Pemberian reward kepada para pengelola PIK R/M Juara lomba
PIK R/M Nasional
3) Partisipasi R/M dalam event – event program KKB tingkat
Nasional dan daerah
b. Membentuk PIK R/M baru di lingkungan :
1) Sekolah/Perguruan Tinggi
2) Lembaga Swadaya Masyarakat

3) Organisasi Kepemudaan
c. Meningkatkan kualitas pengelolaan dan kegiatan dalam kelompok
BKR untuk menjadi kelompok paripurna.
d. Mengembangkan PIK R/M unggulan dan sebagai tempat :
1) Rujukan Pelayanan
2) Studi Banding
3) Magang
e. Meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelayanan dalam PIK R/M
melalui:
1) Tukar pengalaman antar para pembina PIK R/M
2) Tukar pengalaman antar pengelola PIK R/M

3) Hasil tukar pengalaman sebagai bahan penyempurnaan buku
Pedoman Pengelolaan PIK R/M
f. Memantapkan pola pembinaan terhadap pengelolaan dan kader
BKR secara berjenjang.

5. Strategi Pencapaian
a. Mengembangkan Prototype materi Program GenRe
b. Adanya mekanisme regenerasi pengelola disesuaikan dengan basis
pengembangan
c. Mengembangkan TOT bagi mitra kerja
d. Mengintegrasikan kegiatan PIK Remaja dengan kegiatan Kelompok
BKR
e. Membentuk PIK & BKR di lingkungan Mitra yang bekerja sama
dengan BKKBN
f. Mengembangkan BKR di lingkungan keluarga ponpes/tempat
pembinaan
g. Meningkatkan peran duta mahasiswa GenRe dalam
mensosialisasikan dan promosi Program GenRe

ULUMINATY

Posted: 06/12/2012 in Uncategorized

Illuminati

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Adam Weishaupt, pendiri Illuminati Bavaria.

Illuminati (bentuk plural dari bahasa Latin illuminatus, “tercerahkan”) adalah nama yang diberikan kepada beberapa kelompok, baik yang nyata (historis) maupun fiktif. Secara historis, nama ini merujuk pada Illuminati Bavaria, sebuah kelompok rahasia pada Zaman Pencerahan yang didirikan pada tanggal 1 Mei tahun 1776.

Sejak diterbitkannya karya fiksi ilmiah postmodern berjudul The Illuminatus! Trilogy (1975-7) karya Robert Shea dan Robert Anton Wilson, nama Illuminati menjadi banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang dipercaya mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru. Dalam konteks ini, Illuminati biasanya digambarkan sebagai versi modern atau keberlanjutan dari Illuminati Bavaria.

Daftar isi

Sejarah

Gerakan ini didirikan pada tanggal 1 Mei 1776 di Ingolstadt (Bavaria Atas) dengan nama Ordo Illuminati, dengan anggota awalnya sebanyak lima orang,[1] dan dipelopori oleh Adam Weishaupt (m. 1830) yang Yesuit.[2] Dia adalah profesor hukum kanon di Universitas Ingolstadt.[3] Kelompok ini terdiri dari para pemikir bebas sebagai perwujudan Pencerahan dan nampaknya mencontoh Freemason.[4] Anggota Illuminati melakukan sumpah rahasia dan berikrar untuk mengabdi kepada atasan mereka. Anggotanya dibagi menjadi tiga kelas, masing-masing dengan beberapa tingkatan, dan banyak cabang Illuminati menarik anggota dari loji Mason yang sudah ada.

Pada awalnya Weishaupt berencana bahwa kelompok itu akan dinamai “Perfectibilists”.[1] Kelompok itu juga disebut Illuminati Bavaria dan ideologinya disebut “Illuminisme”. Banyak intelektualis dan politisi progresif terkenal yang menjadi anngotanya, termasuk Ferdinand dari Brunswick dan diplomat Xavier von Zwack, yang menjadi orang kedua di organisasi.[5] Organisasi ini memiliki cabang di banyak negara di Eropa. Dilaporkan bahwa ada sekitar 2.000 anggota dalam kurun waktu 10 tahun.[3] Organisasi ini juga menarik kalangan sastrawan semacam Johann Wolfgang von Goethe dan Johann Gottfried Herder, serta para duke yang berkuasa di Gotha and Weimar.

Pada tahun 1777 Karl Theodor menjadi penguasa Bavaria. Dia adalah seorang pendukung Despotisme Tercerahkan dan pemerintahannya melarang segala bentuk kelompok rahasia termasuk Illuminati. Perpecahan dan kepanikan Internal terjadi di dalam Illuminati sebelum akhirnya kelompok ini mengalami pembubaran, yang dipengaruhi oleh Dekrit Sekular yang dikeluarkan oleh pemerintah Bavaria.[3] Dekrit pada tanggal 2 Maret 1785 tersebut “nampaknya menjadi pukulan mematikan bagi Illuminati di Bavaria.” Weishaupt sendiri membawa kabur dokumen dan korespondensi internal Illuminati, namun kemudian berhasil diambil pada tahun 1786 dan 1787, lalu dipublikasikan oleh pemerintah pada tahun 1787.[6] Rumah Von Zwack digeledah untuk mencari lebih banyak dokumen mengenai kelompok tersebut.[5]

Illuminati modern

Beberapa kelompok persaudaraan modern mengklaim sebagai “pewaris” Illuminati Bavaria dan telah secara terang-terangan menggunakan nama “Illuminati” dalam pelaksanaan ritus mereka. Beberapa, misalnya banyak kelompok yang menyebut diri mereka sebagai “Ordo Illuminati”,[7][8] menggunakan nama itu secara langsung dalam organsiasi mereka, misalnya Ordo Templi Orientis, menggunakan nama “Illuminati” sebagai tingkatan inisiasi dalam organisasi mereka.

Teori persekongkolan

Barruel dan Robison

Antara tahun 1797 dan 1798 Memoirs Illustrating the History of Jacobinism karya Augustin Barruel dan Proofs of a Conspiracy karya John Robison memengemukakan teori bahwa Illuminati terus bertahan dan melaksanakan persekongkolan internasional yang masih berlangsung. Mereka mengklaim bahwa Illuminati merupakan dalang di balik Revolusi Prancis. Kedua buku itu sangat populer, terus dicetak ulang dan dikutip oleh banyak buku lainnya[9] (misalnya oleh Proofs of the Real Existence, and Dangerous Tendency, Of Illuminism karya Pendeta Seth Payson, diterbitkan pada tahun 1802).[10] beberapa tanggapan terhadap karya tersebut bersifat kritis, contohnya On the Influence Attributed to Philosophers, Free-Masons, and to the Illuminati on the Revolution of France karya Jean-Joseph Mounier.[rujukan?]

Karya-karya Barruel dan Robison juga memberikan pengaruh di Amerika Serikat. Di New England, pendeta Jedidiah Morse dan beberapa lainnya berkhotbah menentang Illuminati. Khotbah mereka dicetak dan berita tentang itu masuk ke surat kabar. Pada dekade awal tahun 1800-an, masalah tersebut mulai tak lagi mendapat banyak perhatian, meskipun mengalami kebangkitan selama Gerakan Anti-Mason pada tahun 1820-an dan 1830-an.[1]

Masa modern

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Teori persekongkolan dan Tatanan Dunia Baru

Ketertarikan terhadap Iluminati pada masa sekarang berawal dari diterbitkannya The Illuminatus! Trilogy,[11] sebuah karya fiksi ilmiah postmodern yang ceritanya menampilkan Illuminati sebagai penguasa dunia. Para penulis seperti Mark Dice,[12] David Icke, Texe Marrs, Ryan Burke, Jüri Lina dan Morgan Gricar berpendapat bahwa Illuminati Bavaria terus bertahan, bahkan mungkin hingga saat ini. Banyak dari teori tersebut mengemukakan bahwa banyak kejadian di dunia dikendalikan dan dimanipulasi oleh kelompok rahasia yang menyebut diri mereka sebagai Illuminati.[13][14] Para penganut teori persekongkolan mengklaim bahwa banyak orang terkenal yang menjadi anggota Illuminati. Presiden Amerika Serikat sering menjadi sasaran yang umum untuk klaim semacam itu.[15][16]

Tokoh penting dalam gerakan teori persekongkolan, Myron Fagan, berusaha mencari bukti-bukti bahwa banyak peristiwa bersejarah, mulai dari Pertempuran Waterloo, Revolusi Prancis, sampai pembunuhan president John F. Kennedy, semuanya didalangi oleh Illuminati.[17][18]

Budaya populer

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Illuminati dalam budaya populer

Novel

Illuminati sering digambarkan dalam novel-novel terkenal, seperti Illuminatus! Trilogy oleh Robert Shea dan Robert Anton Wilson; juga Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco; serta Angels and Demons buatan Dan Brown. Para penulis ini tidak menggunakan sumber-sumber serius yang memberikan informasi historis mengenai Illuminati, dan lebih berdasarkan pada teori konspirasi yang membicarakan mengenai Illuminati, sehingga Illuminati digambarkan sebagai kelompok jahat atau konspirator yang misterius dan kejam atau mereka digambarkan sebagai orang-orang tercerahkan yang berusaha melindungi dunia dari kejahatab. Informasi spekulatif ini seringkali dianggap benar. Pada kenyataannya, baik Galileo Galilei (1564-1642) ataupun Bernini (1598-1680) bukanlah anggota Illuminati, seperti diceritakan dalam novel Dan Brown, dan ceritanya mengenai tradisi seratus tahun druid Kelt, pembunuh gelap, dan Templar, yang berusaha menemukan “umbilicus telluris” (Templat:Etymology), seluruhnya fiktif.[rujukan?]

Catatan kaki

  1. ^ a b c Stauffer, Vernon (1918). New England and the Bavarian Illuminati. NY: Columbia University Press. hlm. 133–134. OCLC 2342764. Diakses pada 27 Januari 2011.
  2. ^ Stauffer, hlm. 129.
  3. ^ a b c McKeown, Trevor W. (16 February 2009). “A Bavarian Illuminati Primer”. Grand Lodge of British Columbia and Yukon A.F. & A.M.. Diarsipkan dari yang asli pada 27 Januari 2011. Diakses pada 27 Januari 2011.
  4. ^ Goeringer, Conrad (2008). “The Enlightenment, Freemasonry, and The Illuminati”. American Atheists. Diarsipkan dari yang asli pada 27 Januari 2011. Diakses pada 27 Januari 2011.
  5. ^ a b Introvigne, Massimo (2005). “Angels & Demons from the Book to the Movie FAQ – Do the Illuminati Really Exist?”. Center for Studies on New Religions. Diarsipkan dari yang asli pada 27 Januari 2011. Diakses pada 27 Januari 2011.
  6. ^ Roberts, J.M. (1974). The Mythology of Secret Societies. NY: Charles Scribner’s Sons. hlm. 128–129. ISBN 9780684129044.
  7. ^ “The Illuminati Order Homepage”. Illuminati-order.com. Diakses pada 6 Agustus 2011.
  8. ^ “Official website of The Illuminati Order”. Illuminati-order.org. Diakses pada 6 Agustus 2011.
  9. ^ Simpson, David (1993). Romanticism, Nationalism, and the Revolt Against Theory. University of Chicago Press. ISBN 0-226-75945-8.88.
  10. ^ Payson, Seth (1802). Proofs of the Real Existence, and Dangerous Tendency, Of Illuminism. Charlestown: Samuel Etheridge. Diakses pada 27 Januari 2011.
  11. ^ Robert Shea, The Illuminatus! Trilogy, 1983. ISBN 0-440-53981-1
  12. ^ Sykes, Leslie (17 May 2009). “Angels & Demons Causing Serious Controversy”. KFSN-TV/ABC News. Diarsipkan dari yang asli pada 27 Januari 2011. Diakses pada 27 Januari 2011.
  13. ^ Barkun, Michael (2003). A Culture of Conspiracy: Apocalyptic Visions in Contemporary America. Comparative Studies in Religion and Society. Berkeley, CA: University of California Press. ISBN 978-0520238053.
  14. ^ Penre, Wes (26 September 2009). “The Secret Order of the Illuminati (A Brief History of the Shadow Government)”. Illuminati News. Diarsipkan dari yang asli pada 28 Januari 2011. Diakses pada 28 Januari 2011.
  15. ^ Howard, Robert (28 September 2001). “United States Presidents and The Illuminati / Masonic Power Structure”. Hard Truth/Wake Up America. Diarsipkan dari yang asli pada 28 Januari 2011. Diakses pada 28 Januari 2011.
  16. ^ “The Barack Obama Illuminati Connection”. The Best of Rush Limbaugh Featured Sites. 1 Agustus 2009. Diarsipkan dari yang asli pada 28 Januari 2011. Diakses pada 28 Januari 2011.
  17. ^ Mark Dice, The Illuminati: Facts & Fiction, 2009. ISBN 0-9673466-5-7
  18. ^ Myron Fagan, The Council on Foreign Relations,. Council On Foreign Relations By Myron Fagan

Pranala luar

Search Wikimedia Commons Wikimedia Commons memiliki kategori mengenai Illuminati

Shabu-shabu

Posted: 27/11/2012 in Uncategorized
Image
Shabu-shabu :
Ubas, ss mecin. Gold river, coconut, crystal. shabu2 ini yang sangat mudah didapat dan sangat mudah cara mengkonsumsinya; kelihatannya shabu2 ini memang sengaja disiapkan oleh Kekuatan asing dan Mafia internasional untuk merusak generasi penerus bangsa, bubuk shabu2 yang berbentuk kristal ini sangat mudah didapat dan sangat mudah juga dipakainya, dan pemakainya tidak pernah sakauw atau merasa kesakitan kalau lagi nagih, tetapi bubuk kristal ini sangat jahat karena langsung merusak otak terutama otak yang mengendalikan pernafasan, suatu saat pecandu akan mengeluh sakit asma(sesak nafas) dan lama2 kalau tetap memakai shabu2 akan meninggal begitu saja karena kehabisan nafas, karena syaraf otak yang mengendalikan pernafasan sudah tidak berfungsi, dan tidak ada lagi instruksi untuk bernafas. Setiap hari ada berapa remaja yang meninggal hanya karena keluhan sesak nafas(asma). Cara memakai Kristal ini dibakar lalu dihisap dengan alat khusus yang disebut Bong tetapi anak2 pandai sekali bisa membuat dengan botol apa saja. Dihisap dengan mediator air. Tetapi yang pecancu tidak tahu, didalam tubuh kristal ini mengkristal kembali, sehingga paru2nya bisa berubah menjadi batu mengeras sehingga umumnya keluhan pemakai shabu-shabu adalah sesak nafas. Harga Shabu-bhabu 1 gr – Rp. 200.000,- Jenis Blue Sky yang mahal 1 gr. Rp. 500.000,- 1 gr. bisa untuk 8 orang. Biasanya dipakai 2 kali per minggu. Kristal ini paling banyak digemari karena tidak ada sakauwnya, kalau lagi nagih hanya gelisah, tidak bisa berpikir dan bekerja
 
Sakauw Shabu-shabu :
Gelisah, tidak bisa berpikir, tidak bisa bekerja.Tidak bisa tenang, cepat capai, mudah marah, tidak bisa beraktivitas dengan baik, tidak ada semangat, Depresi berat, Rasa lelah berlebihan, Gangguan tidur, Mimpi bertambah
Habis pakai shabu-shabu:
            Mata bendul ada garis hitam, Badan terasa panas terbakar, sehingga minum terus menerus, dan ke-mana2 selalu membawa botol aqua. Kuat tidak makan dan tidak tidur sampai ber-hari2, ngomong terus tapi suaranya jelas.Bersemangat, gariah seks meningkat, paranoid, tidak bisa diam/tenang, selalu ingin menambah terus, tidak bisa makan, tidak bisa tidur
Pernah dicoba betapa ganasnya kristal ini, ambil daging mentah dan taruh kristal ini diatasnya dan kristal ini bisa menembus masuk kedalam daging ini, bayangkan kristal seperti ini dimasukkan kedalam tubuh.
 
Akibat :
Merusak organ2 tubuh terutama otak, dan syaraf yang mengatur pernafasan. Banyak yang mati karena sesak nafas, dan tiba2 berhenti bernafas karena syaraf yang mengendalikan pernafasan sudah rusak dan tidak ada lagi instruksi untuk bernafas, sehingga nafasnya putus/berhenti, dan mati.Paranoid, otak suah dipakai berpikir dan konsentrasi, jet lag dan tidak mau makan.Rasa gembira / euforia, Rasa harga diri meningkat, Banyak bicara, Kewaspadaan meningkat, denyut jantung cepat, Pupil mata melebar, Tekanan darah meningkat, berkeringat/rasa dingin, Mual/muntah, (Dalam waktu 1 jam setelah pemakai gelisah),Delirium/kesadaran berubah (pemakai baru, lama, dosis tinggi), Perasaan dikejar-kejar, Perasaan dibicarakan orang, Agresif dan sifat bermusuhan, Rasa gelisah, Tak bisa diam, (Dalam waktu 24 jam).Gangguan irama detak jantung, Perdarahan otak, Hiperpireksia atau syok pada pembuluh darah jantung yang berakibat meninggal.
 
Intisari :
Tahun 1990-an, Indonesia diserbu obat-obatan berbahan dasar amphetamine seperti ekstasi dan shabu. Dalam dunia kedokteran, amphetamine dipakai sebagai obat perangsang. Salah satunya ntuk mengatasi depresi ringan. Oleh umum, ekstasi yang berbahan dasar MDMA (Methylenedioxymethamphetamine) dan shabu dipakai untuk memperoleh rasa gembira dan tidak mengenal lelah. Dan untuk mempertahankan kondisi ini, pemakai akan menambah dosis hingga tanpa disadari sudah melampau batas. Bahayanya, nggak ada yang bisa memastikan apa sisa kandungan obat-obatan tersebut selain amphetamine. Begitu pula risiko atau efek samping apa yang bakal menghadang. Ekstasi dan shabu merangsang sistem saraf pusat (otak) hingga pemakainya tampak tak kehabisan enerji. Jika sedang “on” memang akan terasa enak tapi sesudahnya badan akan terasa letih, depresi berat, lesu, dan yang paling parah ingin mencelakakan diri sendiri dan bunuh diri. Gejala fisik lainnya, pupil akan melebar, tekananan darah meninggi, berkeringat tapi merasa kedinginan, mual atau muntah,

dan kesadaran menurun. Sementara ada anggapan shabu bisa mengehntikan kecanduan taerhadap putauw (heroin). Tapi sejauh ini kebenarannya sangat diragukan. Kandungan aktif: 100 persen.

Heroin & Opium

Posted: 27/11/2012 in Uncategorized

Image

Heroin & Opium :
         
sangat mahal, harganya jutaan, jarang dipakai remaja. Sakauw, Habis pakai dan akibatnya sama dengan Putauw.
 
Sakauw :
Depresi berat, Rasa lelah berlebihan, Banyak tidur, Mimpi bertambah, Gugup, Ansietas/rasa gelisah, Perasaan curiga.Denyut jantung cepat, Gelisah, Euforia atau rasa gembira berlebihan, Rasa harga diri meningkat, Banyak bicara, Kewaspadaan meningkat, kejang-kejang, Pupil mata melebar, Tekanan darah meningkat, Berkeringat atau rasa dingin, Mual / muntah, Mudah berkelahi dan cepat tersinggung, Gangguan kejiwaan, subarachnoid/otak, Thromboemboli/penyumbatan pembuluh darah, Nystagmus, horisontal/mata bergerak tak terkendali, Distonia (kekakuan) otot leher.Aritmia jantung/gangguan irama jantung, Luka sampai sekat rongga hidung, Hilang nafsu makan, Anemia, berat badan turun
 
Intisari :
candu. Efeknya lebih dahsyat dan harganya lebih murah. Hal ini juga merupakan godaan berat yang nggak jarang mendorong remaja untuk coba-coba. Nggak ada pemakai yang bisa menghentikan sakauw kecuali dengan mengkonsumsi putau lebih banyak lagi. Begitu terus-menerus hingga pemakai tak punya pilihan lain dan tubuhnya tak mampu menerima lagi. Ketergantungan putauw jelas mimpi buruk. Seseorang bisa melakukan hal-hal nekat jika sakau menyerang. Dengan putauw kamu bisa gembira seketika. Tapi seiring waktu, tubuh terus mentuntut dosis yang lebih banyak. Apa risikonya? Kematian yang mengenaskan menugggu di depan mata. Kandungan aktif heroin : 20 persen, Heroin Hydrichloride: 20 persen, Monoacetyl Morphine: 35 persen, The baine: 15 persen, Papaverine: 10 persen, Noscapine: 5 persen

Ectasy, Inex, Blackheart

Posted: 27/11/2012 in Uncategorized

Image

Ectasy, Inex, Blackheart
Inex,Ecstasy,Blackheart : Kancing, I, inex.Alladin, electric, gober, butterfly, dll.Cara pakai: Berbentuk pil/kapsul.Dikunyah, dikulum, ditelan dengan air mineral. Harganya sangat mahal sehingga hanya dipakai kelas menengah keatas, executive dll.
 
Habis pakai :
rasanya gembira terus, maunya tertawa, hal2 yg tidak lucu saja membuat tertawa, energetik.Energik, mata sayu, muka pucat, berkeringat banyak, tidak bisa diam/over acting,tidak bisa tidur
Sakauw :
rasanya gelisah dan tidak bergairah dan tidak energetik sehingga ingin mengkonsumsi lagi.
 
Akibat :

Kalau dipakai terus menerus juga merusak organ2 tubuh dan juga merusak otak dan syaraf.Syaraf otak rusak, dehidrasi, liver rusak & berfungsi tdiak baik, tulang gigi keropos, jet lag, syaraf mata rusak, paras selalu ketakutan

PERUNDINGAN

Posted: 27/11/2012 in Uncategorized

Image

ini adalah seorang pengurus PIK R mansa (rani) yang sedang berkonsultasi dengan pembimbingnya

Image

Kalimat terbaik setelah

“Aku mencintaimu.”

adalah

“Hidupku akan sangat indah jika engkau bersedia menjadi istriku.”

Yang selain itu hanyalah hiburan untuk memperpanjang waktu penantian yang tak pasti.

Wanita lebih tertarik kepada laki-laki yang bertanggung-jawab atas cintanya.Mario Teguh

PERHITUNGKANLAH

Posted: 26/11/2012 in Uncategorized

Image

Jumlah orang yang bisa kau patahkan hatinya itu ada batas dan perhitungannya.

Setelah itu engkau harus membayar.

Tidak ada orang bisa melakukan keburukan tanpa keharusan untuk merasakan keburukannya pada diri dan kehidupannya.

Mario Teguh